Parkour Camp - Nature Challenge

Pada tanggal 5-6 februari 2010, Parkour Bandung kembali mengadakan sebuah acara Parkour bertema Parkour Camp – Nature Challenge. Berawal dari ide beberapa praktisi yang ingin pergi camping bersama, akhirya dibuatlah acara tersebut. Ternyata animonya cukup besar, dari 52 orang yang mendaftar 35 orang yang berangkat (sisanya cuman numpang nama doang :p). Gunung Puntang dipilih menjadi lokasi Parkour Camp pertama di Indonesia ini. Lokasi ini dipilih mengingat ada beberapa tempat yang bisa dieksplor seperti : sisa bangunan stasiun radio pada jaman Belanda, Kolam Cinta, dan tentunya sungai gunung Puntang yang terkenal berbatu dan kejernihannya.

Tanggal 5 pagi rombongan berangkat dari daerah Tegalega Bandung, dan menempuh perjalanan kurang lebih 2,5-3 jam untuk sampai ke lokasi. Sesampainya disana kami langsung mendirikan tenda yang sudah terlebih dahulu dibawa oleh saya dan tim advance. Setelah mendirikan tenda, acara dibuka oleh Zico sebagai ketua panitia. Antusiasme para peserta terlihat jelas, setelah makan siang, sebuah bangunan bekas WC langsung didatangi dan dieksplor oleh para peserta. Tepat jam 1 siang, kami berangkat menuju tempat pertama dari acara yaitu reruntuhan perumahan Belanda. Disini kami menyusuri dari puing ke puing, foot placement, landing, precission, problem solving menjadi bagian dari latihan di tempat ini dengan sendirinya. Semua memakai caranya dan kreativitasnya masing-masing untuk sampai ke ujung perumahan.

Dari sini para peserta dibawa ke sebuah kolam yang konon namanya adalah kolam cinta (katanya sih dulu bentuknya menyerupai hati). Disini para peserta diajak sedikit conditioning, bermain dengan keseimbangan, dan ditutup dengan quadrupedie seputar taman cinta + menaiki anak tangga. Belum cukup sampai disini, di perjalanan pulang para peserta diminta untuk membawa batu kali hingga camp site. Hari masih cukup terang untuk beristirahat akhirnya para peserta dibawa untuk masuk ke Gua Belanda yang ada di Gunung Puntang. Guanya cukup pendek jadi karena terlalu cepat akhirnya dibuat sebuah permainan. Kami kembali masuk dari jalan kami keluar, tapi kali ini tidak boleh ada lampu senter yang menyala dan semua peserta saling pegang pundak, tebak siapa yang paling depan dan memimpin 35 orang tersebut? Ya saya!. Untungnya kami berhasil keluar tanpa kekurangan satu orang pun atau kembali ke masa lampau ketika keluar dari dalam gua yang gelap gulita.

Akhirnya matahari mulai tenggelam, para peserta akhirnya beristirahat dan memasak makan malam. Camping tidak seru tanpa adanya api unggun, dengan ditemani api unggun para peserta berkumpul sambil menikmati makan malam masing-masing, ada juga yang memanfaatkan hangatnya api unggun untuk mengeringkan sepatu atau celana mereka yang basah akibat latihan siang tadi. Api unggun semakin berkesan dengan beberapa puisi yang dipentaskan oleh Dike, dengan gayanya yang santai dan bahasanya yang lucu, puisi puisi dari Dike berhasil menambah hangatnya suasana malam itu. Setelah cukup bercengkrama akhirnya para peserta masuk tenda dan beristirahat tak sabar untuk menunggu pagi.

Keesokan paginya para peserta sudah siap dengan sarapannya masing-masing. Rencana awal akan diadakan games kecil sebagai pemanasan, tapi hujan gerimis nampak sedikit mengikis euphoria pagi itu. untuk mengembalikan semangat akhirnya hari terakhir di gunung Puntang diawali dengan pemanasan bersama tentunya dengan sedikit conditioning dan quadrupedie di lumpur. Nampaknya bermain dengan lumpur mengembalikan semangat para peserta, dengan berbekal semangat ini kami menuju tempat latihan akhir kami dari Parkour Camp ini, Sungai gunung Puntang. Begitu sampai di tempat start antusiasme semua peserta terlihat, seperti anak kecil yang dibawa ke dalam toko permen. Batu-batu kali besar, dan air yang jernih langsung menghipnotis kami semua. turunnya hujan di pagi hari membuat arus dari sungai lebih deras dari biasanya, tapi itu tidak menjadi halangan bagi para peserta. Awalnya semua mencoba untuk lompat dari satu batu ke batu lain, precision, landing dan foot placement di batu kali tentunya memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri. Sampai pada akhirnya para peserta merubah rute awal dari batu ke batu menjadi salmoning (ingat ikan salmon yang melawan arus untuk bertelur?) melawan arus yang deras dan dingin. Setelah 2 jam berjuang melawan arus dan bermain di bebatuan kami semua sampai di titik akhir yang ditentukan. Air terjun mini dari tembok bendungan menjadi penutup dari serunya bermain di sungai G. Puntang kali ini. Para peserta pulang ke camp site untuk mengganti pakaian yang basah dan beristirahat. Acara pun ditutup dengan makan siang dan berdoa bersama.

Semua yang menyenangkan selalu mempunyai akhir, tapi semua pulang dengan membawa kenangan dan senyuman. Saya pribadi mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh peserta terutama yang sudah jauh-jauh datang dari Jakarta (Daniel, Adit, Arie, Mamat, Putra dan Ika) serta kang Hilmi dari Sumedang. Juga kepada para panitia atas kerja keras dan dedikasinya. Tulisan ini untuk kalian semua.

PARKOUR BANDUNG!!!!

“HEY HO LETS FLOW”

Mencoba berbagi Parkour dari sisi lain, dari sisi praktisi yang percaya bahwa Parkour bukan hanya sekedar loncat-loncat.

twitter.com/willyirawan

view archive



website Parkour Indonesia

Ask me anything