#22 Etre Et Durer

Seperti judul blog ini, lagi-lagi saya garis bawahi, Parkour bukan hanya sekedar loncat-loncat.

Ada filosofi-filosofi yang membangun secara fisik dan mental dibalik Parkour. Parkour menjadi Parkour karena nilai-nilai yang ada di baliknya, dan ketika kita tidak mengerti filosofi/esensi dibalik itu semua, kita hanya melakukan aksi lompat-lompat. “Leave No Trace” misalnya, seperti yang sudah saya sebut, sebuah filosofi yang meminta kita untuk selalu menjaga lingkungan dimana kita berlatih.

Kali ini, saya akan membahas salah satu filosofi lain yang terkenal dari Parkour yaitu “Etre et Durer” yang berarti “To Be And To Last”. Filosofi ini seharusnya menjadi pegangan para praktisi ketika berlatih. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak buru-buru dan bersabar dalam berlatih. Kita berlatih untuk saat ini dan bertahan (kalo bisa selamanya). Tubuh kita perlu proses untuk menjadi kuat, otot, jaringan tendon serta sendi yang diperkuat dari latihan kecil yang tidak terhitung, dan filosofi ini mengajarkan kita untuk membangunnya sedikit demi sedikit. Pendalaman filosofi ini juga menjauhkan kita dari cedera, David Belle sudah berlatih lebih dari 20 tahun, semasa dia berlatih dia tidak pernah mengalami cedera parah karena filosofi ini. Dia berlatih dengan penuh kesabaran dan memperkuat sedikit demi sedikit kekuatan tubuhnya.

Ada sebuah peraturan tidak tertulis di Tim Yamakasi yang mengatakan bahwa selama 1 tahun para muridnya tidak diperbolehkan untuk lompat ke bawah (drop) lebih tinggi daripada tinggi badannya, kenapa? Karena memang belum siap badannya untuk menahan beban tubuhnya. Dan ketika setelah satu tahun pun bukan berarti mereka bebas melakukannya. Ada cara yang lebih pintar untuk turun dari ketinggian dari loncat langsung dari ketinggian. (Tahukah kalian jika kalian loncat dari ketinggian 2M kalian akan menahan beban 3x berat badan walaupun hanya untuk beberapa saat? Silahkan lakukan perhitungannya sendiri).

Etre et Durer juga menjauhkan kita dari dilusi (silahkan baca postingan saya sebelumnya). Kita bisa saja berlatih sesaat dan merasa yakin untuk bisa drop langsung dari ketingian 3M, tapi setelah itu kaki anda cedera dan habislah sudah karir anda di Parkour, jadi buat apa? Hanya untuk menunjukkan kepada teman-teman anda bahwa anda hebat dan kemudian menjadi cacat seumur hidup? Untuk saya itu adalah hal yang (maaf) tolol untuk dilakukan. Parkour seharusnya menjadi sebuah alat untuk mengenal diri sendiri dan memperkuat diri bukan untuk menghancurkan diri.

“So many people try to train easy “Come do Parkour! It’s really cool!” But if tomorrow I made you do real training, you would end up crying”. –David Belle-


Mencoba berbagi Parkour dari sisi lain, dari sisi praktisi yang percaya bahwa Parkour bukan hanya sekedar loncat-loncat.

twitter.com/willyirawan

view archive



website Parkour Indonesia

Ask me anything